Senin, 30 Desember 2013

Cumbuan Rindu Alam


Rencana gobar alias gowes bareng tutup tahun Mentari69 kali ini sebenarnya sudah cukup lama direncanakan, tak kurang dari dua bulan waktu terlewati buat kampanye lewat berbagai media iklan hingga info ngalor ngidul di pos ronda ngasi kesempatan para pemuda tangguh Mentari69 mempersiapkan segala sesuatunya terutama RRI (restu ridho istri) yg biasanya paling sulit didapat, namun entah kenapa masih banyak yg tidak bisa ikut dengan berbagai macam alasan khas pemuda mentari mulai dari masih terkena sabetan katana versi joni (jongos nipon), persiapan akhir taun, kena tugas negara dadakan hingga RRI yg tak kunjung tegak bak impoten. Padahal trek yg disuguhkan kali ini konon katanya lebih indah, lebih seksi, lebih asoy, lebih lengkap dan segala lebih lebih yg lain dibandingkan trek Cianten yg pernah kami jajal sebelumnya. Itu semua dari ceritanya om Agung yg sepertinya sih bukan promosi. Pada akhirnya hanya 4 pemuda yg terkumpul, om agung, om edi, om bagas aka pak ketu, dan saya sendiri. Berhubung anggota jelajah hanya 4 orang, kami pakai 1 mobil saja, untuk loading, dua sepeda di dalam sisanya pakai bike rack. Sabtu 7 Dec 2013, pagi pagi buta kami sudah meluncur melewati tol Cikampek lanjut Jagorawi menuju gadog. Perjalanan terasa sangat lancar, tak butuh waktu lama untuk tiba di Gadog, hanya satu jam an saja. Di sebuah masjid kanan jalan tempat kami unloading yg terkenal di kalangan goweser yg menuju puncak sebagai tempat parkir sudah terlihat banyak mobil sedang unloading dengan tunggangan kebesaran masin masing. Tempat ini dipilih lantaran sekaligus sebagai titik finish jalu RA gadog. Sempat saya lirik lirik banyak diantaranya dari sepeda merk terkenal yg tentunya berharga selangit. Tapi yg utama dari gowes bukanlah harga yg tersemat di balik sepedanya namun dengkul yg menggenjot di balik pedalnya.(padahal sich memang ga sanggup beli he..he...). Susuai kesepakatan sebelumnya saya dan om agung ngerace dari bawah, pak ketu dan om cuenk naik angkot, katanya masih butuh banyak latihan buat menaklukkan tanjakan.
Perlahan saya dan om agung mulai menggenjot sepeda menikmati udara pagi nan segar, menyusuri tanjakan gadog puncak. selalu menimbulkan sensasi tersendiri setiap melewati tanjakan, menikmati nafas yg memburu dan keringat menetes yg beradu cepat dengan degupan jantung dan paru paru. Kenikmatan akan bersepeda mencapai klimaksnya saat berhasil mencapai puncak tanjakan. Saat saat seperti ini yg selalu saya tunggu. Di awal tanjakan, perlahan saja kami memutar pedal sepeda namu berubah total saat seorang goweser dengan kecepatan tinggi menyalip kami. Naluri ngerace dengan sedikit gengsi karena disalip segera muncul. Langsung saya kejar goweser tadi meninggalkan om agung di belakang. Selanjutnya saya kuntit goweser tadi sekedar menguji dengkul hasil latihan selama ini. Sekitar 5km berikutnya berhasil juga saya salip goweser yg tidak sempat saya tanya tanya berhubung nafas terlalu panas. Selepas taman safari jalan terasa semakin miring namun beruntung di kiri kanan jalan pemandangan indah khas puncak selalu menyegarkan mata yg melihatnya disertai semilir angin pegunungan yg sedikit membantu menurunkan suhu tubuh. Gowes nanjak pemanasan berakhir di warung mang ade. Total 22km jarak tempuh dengan kemiringan jalan naik 1050m ,dari 450m di gadog hingga mencapai 1500m di warung mang ade.
 Pemandangan sepanjang jalur Puncak
Berhubung tak satupun dari kami yg pernah lewat trek ini, dengan alasan takut nyasar kami sepakat memakai jasa marshal alias pemandu jalan dengan membayar 250rb. Om Tedy sang marshal sudah siap dengan terlebih dulu memberi sedikit wejangan sebelum masuk ke trek. Tak butuh waktu lama sejak masuk trek untuk menemukan nikmatnya jalur offroad dengan jalan tanah becek dan berlumpur sehabis hujan semalam.  Prosotan demi prosotan yg nikmatnya tidak ketulungan saat dilalui menjadi menu trek selanjutnya. Dengan titik start yg harus dicapai dengan nanjak 1000an meter bisa dipastikan trek sebaliknya adalah jalan menurun nan maknyuss. Olah tkp segera digelar saat terhampar pemandangan puncak yg menggoda sebagai barbuk alias barang bukti perjalanan. Puas jepret jepret perjalanan kami lanjutkan menyusuri pinggiran rindu alam. Hutan yg masih lebat di kiri kanan jalan menemani sepanjang jalan sebelum memasuki kebun teh yg membentang hingga kejauhan. Hujan rintik rintik mulai turun memaksa kami mengenakan jas hujan. Kombinasi jalan berlumpur, hujan rintik, hingga dinginnya suhu puncak dengan hijaunya vegetasi alam semakin menambah nikmatnya gowes kali ini.

 Lintasan awal Rindu Alam Classic
 Kebun teh nan mempesona
Kebun teh ini selanjutnya berlanjut memasuki perkebunan Gunung Mas yg juga salah satu obyek wisata di daerah puncak yg cocok untuk wisata keluarga dengan tempat pemancingan dan kolam renang. Dari sini akan tembus ke bagian pintu gerbang Taman Safari. Hujan bertambah deras, suhu tubuh dengan cepat bertambah dingin. Selepas taman safari mulai kami dapati jalan yg menanjak termasuk di dalamnya tanjakan ngehek yg terkenal. Berhubung saya gunakan ukuran ban yg kecil yg sebenarnya kurang cocok dipakai di jalur berlumpur, bersama pak ketu sering tertinggal di belakang. Dengan gaya yg khas fantat meliuk liuk bak ular kobra dari india dari kejauhan terlihat pak ketu berusaha keras menaklukkan tanjakan ngehe. Om agung dan om cueng sudah menunggu di atas siap menjepret kami yg masih di bawah.
 Trek berlumpur
Setelah tanjakan ngehe kembali kami lewati kebun teh yg berlanjut masuk ke hutan lebat. Di tengah lebat dan gelapnya hutan, saya sama pak ketu berhenti sebentar sambil mengatur nafas dan mendinginkan bokong yg semakin terasa panas. Terdengar suara berciutan dari atas pohon, kami perhatikan sejenak rupanya pohon di depan kami dijadikan sarang monyet. Berloncatan ke sana kemari entah ngasi semangat ke kami untuk lanjut gowes atau sebaliknya mau mengusir. Meminjam istilah pak ketu dari pada diperkosa monyet di tengah hutan, tanpa menunggu lebih lama segera kami lanjutkan perjalanan. Selanjutnya kami memasuki wilayah Desa Sukamaju , dari sini bisa dibilang tinggal menggelinding turun hingga menggiring kami tiba kembali ke gadog setelah sempat makan siang di sebuah tikungan.
Mengatur nafas
 
 
Monyet masih banyak di seputar puncak
 

Rute RA (rindu alam) Classic
Sungguh sebuah perjalanan yg berkesan, ditambah kepuasan menikmati salah satu lintasan gowes paling cantik di seputar jawa barat. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar